Tampilkan postingan dengan label Chandra Kirana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chandra Kirana. Tampilkan semua postingan
0 com

Morning dew...

upon each blade
of perfectly green grass
The haze of dawn
Thru which the rays of sunshine
Shyly peep
Fill the air with
A crisp freshness of
of a wonderful autumn beginning

Kata-kata ini muncul dibenakku tigabelas tahun lalu, dalam perjalanan dari kamar kosku ke stasiun Harlem. Waktu itu bulan November - dan dedaunan sudah banyak berubah warna merah dan orange menyala - melayang jatuh menyentuh tanah dengan lembut ---lalu pelahan terseret deru angin yang membelai mata kakiku, menyingkap bagian bawah celana panjangku, menusuk kaus kaki made in Indonesia yang tak kuasa menahan dingin. Hidungkupun serasa sudah membeku, badanku menggigil - kupeluk bayi kecilku, kucoba balutkan kain gendongan batik solo ketubuhnya yang masih terlelap dipelukku - coba lindungi dia dari cuaca yang sungguh tak ramah ini.

Disekelilingku ---semuanya tampak kian kelabu dari hari ke hari. Pagi ini, jauh lebih kelabu dibandingkan awal minggu. Daun yang runtuh sudah banyak yang menjadi kusam. Taman-taman kecil didepan rumah-rumah yang kebanyakan terbuat dari batu masonry - sudah mati. Bagian kota yang kulewati sungguh padat - yang ada hanya bangunan-bangunan kelabu, daun-daun rontok. Tak banyak orang yang lalu lalang.

Anehnya waktu itu - aku merasa sangat dekat pada alam - padahal kemanapun mataku memandang, terbentur pada gedung-gedung kelabu, tiang lampu listrik, toko-toko yang belum buka - setengah kumuh rasanya. Lalu kusadar - rasa dekat kealam ini muncul karena dingin yang menusuk tulang itu ----- dan tiba-tiba---- mataku menemukan sepetak taman kecil yang masih memiliki rumput hijau yang terbentang. Setiap helai rumput itu bercahaya oleh butiran-butiran embun kecil, sementara cahaya matahari mulai malu-malu menembus kabut menyinari semuanya dengan lembut... Terima kasih Tuhan.... untuk keindahan alam yang kau berikan ditengah kungkungan tembok-tembok kelabu yang kadang terasa membelenggu.

Kontak:
Chandra Kirana (T-026)
Email: telapak@indo.net.id

Selengkapnya ...
1 com

Mungkin Belajar Silatlah Jawabannya

Bersyukur bisa nguping diskusi beberapa orang hebat tentang rencana launching buku 'How to change the world". Sebuah buku yang membahas social entrepreneurship - kewiraswastaan sosial - mengangkat kisah-kisah orang yang 'humble' - tapi berkarya besar. Orang orang yang mampu mengubah dunia karena kegigihan, kesetiaan, kerjakeras, kecerdasan dan kreatifitas yang sangat tinggi. Kisah-kisah orang yang karya hidupnya mampu membangkitkan inspirasi untuk ikut berbuat baik.

Diskusi itu ramai. Separo kawan ingin acara besar - menghadirkan semua orang kaya, orang besar dan pejabat. kalau bisa juga menghadirkan SBY untuk meluncurkannya. Kalau SBY mau memberi 'key note speech' dalam peluncuran buku ini - dan meminta semua bawahannya untuk membacanya, maka dampaknya akan besar, begitu logika berpikirnya. Wah - kalau begini: bisa jadi kita sedang membahas jalan keluar Indonesia dari keterpurukannya! karena setelah buku diluncurkan - akan terbentang roadmap yang mulus menuju Indonesia sejahtera....

Tapi nuraniku terusik dengan jalan pikiran ini. Cara diatas berseberangan dengan jalan social entrepreneurship. Bukankah entrepreneurship harus tumbuh dari hati nurani, mulai mengalir jernih dalam bentuk ide - baru setelah diaktualisasikan dengan semua persyaratan seorang social entreprenuer - sumber perubahan ini bisa menggelombang dan membawa perubahan. Perubahan inipun biasanya terjadi karena banyak hati lain ikut terinspirasi untuk mendukung perubahan melalui karya nyata.

malam itu kubaca buku "how to change the world". Thanks untuk Marco Kusumawijaya yang memberikannya padaku. Memang - kisah-kisah di dalamnya cukup luar biasa. Kurenungkan mengapa orang-orang ini dapat mewujudkan karya-karya yang demikian bermakna bagi kehidupan, pada umumnya dengan sumberdaya kebendaan yang terbatas? Kurasa kutemukan jawabannya dalam cinta kasih dan kebebasan dari pamrih. Mungkin dua hal ini perlu ditambahkan dalam resep 'kepribadian yang diperlukan untuk jadi seorang social entrepreneur'. Dua hal yang sangat langka dalam hingar bingar dunia politik, dunianya SBY, dunia para pengusaha besar, dan pejabat besar.

lalu pagi ini kunemu di 'cofee table' rumahku 'Warta Bangau" yang artikel utamanya membahas Cinta Kasih.. Disitu dikutip mukadimah Guru Besar PGB Bangau Putih:

Cinta Kasih
...... Tanpa cinta kasih
hubungan antara manusia adalah
hubungan yang penuh pamrih, kering dan tindas menindas.
Cinta kasih mendekatkan manusia kepada alam,
karena cinta kasih adalah inti kekuatan daya hidup,
inti kekuatan daya pertumbuhan, dan
inti kekuatan daya penyembuhan ..............

Mungkin, pikirku - lebih baik SBY dan semua bawahannya, juga orang-orang DPR/MPR, MA dan seluruh pejabat peradilan, para orang kaya dan orang besar jakarta - sebaiknya diminta untuk belajar silat saja..

Aku juga hendak belajar silat jadinya. Kujatuh cinta pada mukadimah PGB Bangau Putih ini.....

Kontak:
Chandra Kirana (T-026)
Email: telapak@indo.net.id

Selengkapnya ...
0 com

Wealth is Determined by What You can Live Without

Kemandirian itu Penting

Pernah kubaca kata-kata bijak (lupa siapa pengucap pertamanya) bunyinya begini: "Kekayaan bukan ditentukan oleh apa yang anda miliki, tetapi oleh kemampuan untuk hidup dengan sesedikit mungkin memiliki". Mungkin terjemahan ini buruk, aslinya begini 'Wealth is not determined by what you have, but by what you can live without".

Seminggu di Australia, membawaku kembali merenungkan kata-kata ini. Disini, di kota kecil Armidale - orangtuaku tinggal, dalam rumah mungil yang sangat sederhana, dan pola konsumsi yang sangat sederhana pula. Namun hidup mereka sangat kaya. mereka mampu sangat banyak memberi. Ibuku sukarela mengajar beberapa anak usia sd yang memiliki kesulitan membaca. mereka datang bergantian sejam setiap minggu dan duduk bersamanya - untuk mulai menggapai berbagai inspirasi yang tersimpan dalam buku. Sudah banyak anak yang kini menjadi pencinta buku berkat kesabaran dan antusiasme ibuku ini. Diluar itu ayah ibuku, aktif dalam beberapa kelompok membaca, mengupas berbagai buku menarik, isu-isu keadilan sosial dan perkembangan dunia menarik bagi mereka - yang sedang seru dibahas waktu aku berkunjung adalah "the confesion of an economic hit man". Berkebun, juga kegiatan utama yang mereka berdua sangat suka. Ayahku penguasa kebun belakang rumah - ini penuh dengan sayur mayur dan buah-buahan, yang sering harus dibagi bagi saking banyaknya. semuanya ditanam tanpa pestisida - dipupuk kasih sayang, perhatian dan kompos alami, setiap pagi dua jam dihabiskannya disini - merawat kebunnya. Kebun depan penuh bunga dimusin semi, panas dan gugur, dan dimusim dingin masih juga berhias berbagai perdu evergreen, disini ibuku yang berperan. Sering datang teman untuk minta bibit berbagai bunga yang dimilikinya. Sekali waktu, mereka berdua bepergian untuk mendengarkan berbagai pertunjukan musik klasik, jazz, atau lainnya yang datang ke kota mungil ini. Memang - kekayaan sangat dapat ditentukan oleh apa yang kita tidak miliki. Dirumah orang tuaku ini tak ada hal yang mahal, tak banyak barang malah, just the basics, tapi hidup mereka kaya.

Ayah ibuku tak banyak mengkonsumsi barang - hampir semua yang dimakan dibuat sendiri. Tak harus banyak belanja. Seminggu disini membuat kumerasa - benar "untuk kaya tak harus banyak memiliki barang berharga". Kekayaan ditentukan oleh apa yang tersimpan dalam diri setiap manusia - pikiran, nurani, dan kata hatinya. Jika ini semua terbuka untuk terus menerima dan memberi - niscaya kita akan dapat menikmati hidup yang kaya.

Apa hubungannya kenikmatan musim, ale lamtoro, dan shattering? Begitu mungkin gumam anda dengan judul tulisan ini.

Kontak:
Chandra Kirana (T-026)
Email: telapak@indo.net.id

Selengkapnya ...
0 com

Tapak Limanku Sayang-Komunitiku Malang

Bahasa latinnya adalah Elephantopus scaber L. Dia tumbuh liar dipadang-padang rumput, pinggir sungai, pinggir hutan. Konon asalnya dari Amerika latin, entah siapa yang membawanya ke Asia. Yang jelas - hampir semua masyarakat asli di Asia mengenal khasiat tanaman liar ini. Mulai dari Cina, Thailand, India dan juga berbagai suku bangsa di Indonesia.

Saya tidak menemukan literatur yang menjelaskan bagaimana tanaman ini berkembang biak. Tapi berdasarkan pengalamanku mungkin ternak yang digembalakan bisa jadi merupakan penyebar yang ampuh untuk tapak liman ini. Kuperhatikan kerbau dan sapi sangat suka melahap tanaman ini jika sedang digembalakan, seluruh tanaman direnggut dengan gigi gigi yang kuat, utuh berikut bunga-bunga kecilnya yang berwarna ungu.

India, cina dan juga Thailand menghargai tanaman ini cukup tinggi. Bahkan "Thai Industrial Standards Institute" yang ditugasi oleh pemerintah untuk membantu menaikkan mutu produk komuniti melalui standarisasi - telah mengembangkan standar baku pengeringan tapak liman bagi masyarakat pedesaan di negeri ini. Ini membantu masyarakat pedesaan untuk mengembangkan potensi alam yang dimilikinya secara ekonomis dengan optimal. Sayang waktu ku 'download' standard ini dari web-site mereka, informasinya tertuang dalam tulisan thailand - mirip-mirip 'Hanacaraka' - nya jawa tapi ternyata tak sama. Tadinya kupikir dapat kutularkan ilmu ini ke berbagai komuniti di Ngawi, wonosari dan Wonogiri. Disini tapak liman tumbuh dengan sangat subur. Tapi tak banyak, hampir tak ada bahkan, anggota komuniti yang memanfaatkannya (kecuali sapi dan kerbau ternak mereka). Kuperhatikan tapak liman sangat suka tumbuh ditanah yang banyak mengandung kapur. Jika orang desa membongkar tembok tua yang bergamping dan meratakannya dilapangan rumput - selalu disitu tumbuh tapak liman sangat subur hingga cenderung menumpuk menutup permukaan tanah.

Pernah aku mencari di google - informasi pemasarannya. Kutemukan bahwa sekilo tapak liman bernilai 27,5 ribu rupiah (tak disebut ini nilai kering atau basah) juga kurang jelas bagaimana memasarkannya. Kini kumasih coba mencari dengan bertanya kesana kemari. Kuingin masyarakat pedesaan dapat memproduksi tapak liman kering yang bermutu, agar dapat dipasarkan secara internasional. Terpikir juga untuk mencari tahu bagaimana membudidayakannya. Kini kami dapat memindahkan bibit dari alam yang liar ke pot-pot kecil untuk dipasarkan berikut dengan resep sederhana pemanfaatannya bagi kesehatan. Tapi kami belum tahu cara mengembangbiakkkanya. Mestinya tak sulit, karena tanaman ini berbunga, jadi pasti ada bijinya.

Di Indonesia sejak dulu sudah diketahui berbagai khasiat tanaman yang juga disebut balagaduk, jukut cancang, tapak tangan atau talpak tana ini. Penyakit yang dapat diobatinya antara lain: Influenza, demam, Amandel, Radang tenggorokan, Radang mata; Dysentery, diare, gigitan ular, Batuk, Sakit kuning, Busung air; Radang ginjal, Bisul, Kurang darah, radang rahim, Keputihan.

Secara ilmiah sifat kimia dan efek farmakologisnya diketahui sebagai berikut: Rasa pahit, pedas, sejuk. Penurun panas, Antibiotik, anti radang, peluruh air seni, menghilangkan pembengkakan, menetralkan racun. Daunnya mengandung zat kimia: Epifriedelinol, lupeol, stiqmasterol, triacontan-1-ol, dotria-contan-1-ol, lupeol acetate, deoxyelephantopin, isodeoxyelephantopin, dan bunganya mengandung: Luteolin-7-glucoside.

Ahli dan ilmuwan yang mengetahui khasiat ini di Indonesia tak kurang. Yang kurang adalah kemauan dari pemerintah (juga kejelian LSM) untuk membantu komuniti di pedesaan untuk memanfaatkan potensi alam disekelilingnya. Pihak yang mau dan mampu membantu masyarakat mengelola sumberdaya ini menjadi produk yang bermutu sehingga dapat menembus pasar global sangat dibutuhkan. Ini penting, mengingat untuk berbagai tanaman obat plafon atas permintaan pasar sebenarnya hampir tak terbatas. potensi alam yang tinggi disatu sisi dan peluang pasar yang luas disisi lain, tersia-sia karena kurangnya kejelian, ketelitian dan ketelatenan para pihak yang konon sedang sibuk mencoba mengentaskan kemiskinan. Sayang sekali potensi tapak liman, malang pula nasib masyarakat pedesaan.

Kontak:
Chandra Kirana (T-026)
Email: telapak@indo.net.id

Selengkapnya ...
0 com

Weekend di Kadudampit, Sukabumi

Dari jalan properti itu lebih menyerupai hutan alam lebat yang dibelah sebuah jalan kecil berbatas cemara tinggi berjajar dikanan kiri. Mengikuti jalan yang menurun itu, kita sampai ke sebuah dataran kecil - berlandaskan batu-batu kali. Parkir disini kami menuruni setapak tangga batu --- mengiring turunan bukit, sampai disebuah rumah panggung kecil dengan teras terbuka lebar -yang erat memeluk dinding lereng. Didalam - sebuah perapian ribut memuntahkan kembang api yang memercik riang kian kemari. Suasana yang sangat hangat dan mengundang. Hari ini Pak Ian - seorang sahabat - dan keluarganya mengundang aku, Iwan, Ali dan Anne ke rumah kecilnya di Kadudampit. Disini kami merasakan kenikmatan yang tak dapat dibeli dan tak dapat diciptakan oleh manusia. Pak Ian - hanya memelihara pemberian Tuhan - merawat alam asli yang asri - dan mengijinkan kami untuk ikut mengalaminya.

Di teras - kami duduk sejajar dengan dahan-dahan pohon tinggi - dan puncak rumpun bambu yang berderit diterpa angin. Gemerisik daun bambu ditimpa deru aliran sungai didasar lereng menemani obrolan yang juga tak henti mengalir riang.. Disamping sungai didasar lereng - kolam-kolam air deras memantulkan tarian berlian ketika sinar mentari menyentuh permukaan air - kejernihannya diusik oleh saling silang warna oranye, hitam dan putih mengikuti gesitnya ikan emas yang meluncur kian kemari. melihat ini dari teras - anak-anak tak puas, lalu berlarian kecil menuruni anak tangga menuju pinggir kolam. Keributan mereka menimbulkan melodi baru meningkahi musik alam yang tersaji.

Kini kumengerti mengapa daerah ini disebut Parahiyangan. Disini kami menyatu dengan alam. Sapa bayu berbisik pada dedaunan, lukisan ikan menari dibening kolam, celoteh anak-anak yang riang, aliran sungai yang tak henti membelai batu-batu gunung seperti tarian selendang transparan, begitu 'fragile' namun gagah menderu, menggelegak menceritakan cuaca dihulu. disini manusia masih mengijinkah alam untuk menjadi dirinya sendiri. Terima kasih pak Ian, terima kasih persahabatan.

Kontak:
Chandra Kirana (T-026)
Email: telapak@indo.net.id

Selengkapnya ...
Logo Telapak