Tampilkan postingan dengan label Press Release. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Press Release. Tampilkan semua postingan
0 com

Pemerintah Harus Menghentikan Kegiatan PT Munte Waniq Jaya Perkasa

Bogor, 28 Oktober 2011- Breaking News: Hari ini, Jumat 28 Oktober 2011, pukul 12.00 WITA, dua kelompok warga Dayak Benuaq nyaris bentrok terkait dengan pembebasan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Kawasan adat milik warga Muara Tae digusur paksa oleh PT Munte Waniq Jaya Perkasa dengan buldozer-buldozer, dijaga oleh aparat keamanan setempat. Telapak mendesak pemerintah untuk menjaga kerukunan warga Dayak Benuaq dan mempertahankan hutan adat dengan menghentikan kegiatan PT Munte Waniq Jaya Perkasa.

Selengkapnya ...
0 com

Telapak Menerima Social Entrepreneurship Award dari Skoll Foundation

Hibah Tiga Tahun untuk Mendukung Pengembangan Kehutanan Lestari dan Berbasis Masyakarat menjadi Satu Juta Hektar di Seluruh Indonesia


BOGOR, Indonesia – 7 April 2010 – Hari ini Perkumpulan Telapak mengumumkan telah diterimanya hibah senilai $765.000 dari Skoll Foundation untuk mengembangkan model pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat menjadi sejuta hektar di seluruh Indonesia dalam 3 tahun ke depan.

Hibah ini merupakan satu dari tujuh Skoll Awards for Social Entrepreneurship yang diberikan Skoll Foundation pada tahun 2010 ini untuk memberi penghargaan pada pendekatan paling inovatif dan efektik untuk menyelesaikan isu-isu kritis di bidang sosial. Dengan ini Telapak bergabung dengan sederet pelaku usaha sosial atau social entrepreneurs cemerlang lainnya dari berbagai belahan dunia yang bekerja dengan isu-isu seperti toleransi dan hak asasi manusia, kesehatan, kelestarian lingkungan, kedamaian dan keamanan, tanggungjawab institusional, dan keadilan ekonomi dan sosial.

Telapak adalah perkumpulan yang mengawali suatu perubahan menuju keberlanjutan berbasis masyarakat di Indonesia. Dengan program utama “Menghentikan Illegal Logging dan Membangun Community Logging”, Telapak telah berperan besar untuk mengangkat kejahatan kehutanan di Indonesia serta mendorong kesadaran global dan perubahan kebijakan dalam tata kehutanan, penegakan hukum, dan perdagangan kayu.

Dengan programnya, Telapak saat ini berada pada posisi terdepan penyusunan solusi dengan mengembangkan community logging dan kehutanan lestari dan berbasis masyarakat. Model pertama yang terbukti berhasil terletak di Konawe Selatan, dimana Koperasi Hutan Jaya Lestari telah mendapatkan sertifikat FSC sejak 2005 dan telah membantu mengentaskan kemiskinan di daerah tersebut. Model ini sedang dikembangkan dan direplikasi di Sulawesi, Jawa, Papua dan Kalimantan. Telapak berencana untuk mengelola satu juta hektar hutan secara berkelanjutan dan berbasis masyarakat dalam lima tahun ke depan.

“Kami sangat menghargai Hibah Skoll untuk Social Entrepreneurship ini karena hibah ini merupakan penghargaan atas upaya kami, dan menunjukkan bahwa pendekatan sistemik kami cukup dapat mengatasi deforestasi yang menyebabkan pemanasan global, dan merupakan masalah besar yang sedang dihadapi dunia,” ujar Ruwi, Ketua Perkumpulan Telapak dalam pernyataan resmi.

Selain itu, Wakil Ketua Telapak, Onte, yang beserta Ruwi menerima hibah ini atas nama Telapak, menambahkan pendekatan ini dengan mengatakan, “Visi dimana hutan dan perikanan Indonesia akan dikelola secara lestari oleh masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitarnya membutuhkan investasi sosial, investasi teknis, dan investasi bisnis yang terbaik. Kita semua harus bekerjasama untuk mewujudkan kebijakan yang lebih baik, kampanye dan advokasi yang lebih efektif, dan jaringan global yang lebih kuat melibatkan masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha.”

“Telapak adalah tambahan luar biasa dalam komunitas pelaku usaha Skoll dan Telapak adalah organisasi yang telah menunjukkan ciri-ciri kunci dari social entrepreneur sukses: inspirasi, kreativitas, tindakan, keberanian dan keteguhan,” ujar Sally Osberg, Presiden dan CEO Skoll Foundation. “Seperti semua organisasi dalam portfolio kami, Telapak bekerja mengatasi masalah sosial yang rumit dengan solusi yang dapat dicapai serta berkelanjutan. Kami percaya upaya mereka berpotensi memberi manfaat yang mampu mengubah bidang kehutanan dan kehidupan masyarakat sekitar hutan, dan kami merasa terhormat dapat mendukung komitmen Telapak membuat suatu perubahan pada tantangan ini.”

Telapak akan menerima hibah ini dalam acara penghargaan tanggal 15 April di Skoll World Forum on Social Entrepreneurship di Oxford University. Ruwi dan Onte akan mengikuti forum tiga hari tersebut bersama dengan 800 partisipan lainnya dari komunitas social entrepreneurship.

###

Tentang Telapak
Telapak adalah asosiasi sosial yang paling berwarna yang terdiri dari aktivis LSM, pelaku usaha, akademia, media, dan pemimpin kelompok masyarakat adat, nelayan dan petani. Telapak seutuhnya mengintegrasikan pendekatan ekonomi, budaya, dan politik dalam kegiatannya. Organisasi ini menopang berbagai kegiatannya melalui koperasi dan usaha percetakan, media masa, produksi pangan dan usaha perikanan dan kehutanan yang berkelanjutan. Misi Telapak adalah untuk mempengaruhi kebijakan publik berhubungan dengan konservasi, untuk membangun pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat, dan menghentikan kerusakan ekosistem yang berlangsung dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya sambil mengikutsertakan masyarakat miskin di dalam dan sekitar daerah kaya akan sumberdaya alam.

Khususnya dalam sektor kehutanan, Telapak bertujuan menciptakan rantai nilai lengkap alternatif untuk penyediaan dan pengolahan kayu di Indonesia, yang mengemukakan kelestarian dan keadilan sosial. Pada tahun 2003, Telapak berhasil mengembangkan model pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat dan bersertifikat FSC pertama di Indonesia. Pada model pengelolaan ini, masyarakat di dalam dan sekitar hutan terorganisir dalam suatu koperasi, memahami manfaat-manfaat dan teknik kehutanan lestari, dan diberikan segala dukungan yang dibutuhkan untuk menjadi petani kayu berkelanjutan yang legal, dengan mengikuti persyaratan dokumentasi ketat dari pemerintah dan pihak ketiga. PT PNU, badan usaha dagang berlaba dengan hasil berkelanjutan milik Telapak, telah mendirikan 5 koperasi di 5 daearah di Indonesia. Empat dari 5 koperasi tersebut telah beroperasi, dengan tingkat operasional yang berbeda.

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.telapak.org


Tentang Skoll Foundation
Skoll Foundation dibangun pada tahun 1999 oleh presiden eBay yang pertama, Jeff Skoll, untuk mewujudkan visinya atas dunia yang lebih damai dan sejahtera. Kini Skoll Foundation telah melakukan perubahan besar dengan berinvestasi, menghubungkan dan merayakan social entrepreneur dan inovator lainnya yang berdedikasi untuk mengentaskan permasalahan dunia paling mendesak. Social entrepreneur adalah individu-individu yang tergugah mencari solusi inovatif dan bottom-up yang mampu mengubah ketidakadilan sistem sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Skoll Awards for Social Entrepreneurship adalah program utama yayasan ini. Saat ini terdapat 66 organisasi diwakili oleh 81 social entrepreneur luar biasa, bekerja sendiri dan bersama lintas daerah, negara dan benua menyajikan solusi untuk permasalahan ekonomi dan sosial terumit. Skoll Foundation menghubungkan social entrepreneur dengan mitra lain di bidangnya melalui suatu komunitas online di www.socialedge.org, dan melalui pertemuan tahunan Skoll World Forum on Social Entrepreneurship. Yayasan ini juga merayakan social entrepreneurship melalui kegiatan organisasi utama seperti PBS NewsHour dan Sundance Institute, yang membantu mendorong kesadaran publik secara besar-besaran tentang social entrepreneurship dan potensinya untuk mengatasi masalah kritis masa ini.

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.skollfoundation.org.


Kontak:
Alex Tege
Sekretaris Komunikasi dan Informasi Telapak
tiquzgot@telapak.org
HP: 08111100768

Perkumpulan Telapak
(0251) 8393245
www.telapak.org



Unduh salinan file selengkapnya:
- PDF (ENGLISH, 68 kb)
- PDF (Bahasa, 35 kb)

Selengkapnya ...
0 com

Download Laporan terbaru Telapak

Para pembaca yang budiman,

Setelah posting sebelum ini soal siaran pers Telapak dan EIA, tentunya banyak yang ingin mengetahui lebih jauh tentang laporan Up for Grabs tersebut.  Anda tidak perlu khawatir bagaimana cara mendapatkannya.  Anda cukup meng-klik alamat di bawah ini untuk dapat mengakses laporan terbaru Telapak dan EIA tersebut. 

Kami menyediakan laporan tersebut dalam 2 ukuran file, yaitu:

Karena keterbatasan kami, mohon maaf kami belum dapat menyediakan laporan versi Bahasa Indonesia.  Mudah2an dalam waktu dekat kami dapat segera menterjemahkan laporan tersebut.

Terima kasih dan selamat membaca ...

Selengkapnya ...
0 com

Penguasaan lahan besar-besaran untuk Perkebunan di Papua Mengancam Hutan dan Mengeksploitasi Masyarakat Lokal

10 November 2009, Jakarta.  Rencana perluasan perkebunan di Papua harus segera dihentikan dan ditinjau ulang menyusul banyaknya keprihatinan atas deforestasi besar-besaran dan  eksploitasi masyarakat lokal, demikian diperingatkan para pegiat lingkungan hari ini.


Sebuah laporan baru yang dirilis oleh Telapak dan Environmental Investigation Agency (EIA) - berjudul "Up for Grabs" - memperlihatkan bagaimana lima juta hektar lahan, sebagian besar hutan, sedang menjadi sasaran banyak perusahaan yang mengejar keuntungan dari tingginya permintaan akan biofuel yang berasal dari tanaman seperti kelapa sawit dan komoditas lainnya.  Perampasan tanah ini memprovokasi terjadinya konflik dengan masyarakat lokal dan mengancam wilayah hutan tropis terbesar ketiga yang tersisa di Bumi.

Penyelidikan lapangan yang dilakukan oleh Telapak/EIA di tujuh lokasi di Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat selama tahun 2009 mengungkap gambaran suram eksploitasi pemilik hak ulayat yang direstui oleh pemerintah; banyak dari mereka yang terjerat, tertipu dan kadang dipaksa untuk melepaskan sebagian besar dari lahan hutan untuk perkebunan dengan diimingi janji-janji manfaat pembangunan yang tak terpenuhi seperti perbaikan transportasi, pendidikan, dan perumahan.

Dalam satu kasus, Telapak/EIA mendapati seorang anak laki-laki berumur empat tahun, putra seorang pemilik hak ulayat, yang harus menandatangani kontrak sehingga perusahaan perkebunan bisa menjamin kontrol terhadap tanah tersebut selama puluhan tahun.

Laporan baru ini mendokumentasikan meluasnya ketidakpuasan masyarakat lokal yang dibujuk melepaskan tanahnya untuk dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Kompensasi atas pelepasan tanah tersebut luar biasa rendah - harga tertinggi yang dibayarkan adalah Rp 450.000 per hektar untuk 35 tahun sewa, sementara harga terburuk adalah Rp 15.000 per hektar.  Telapak/EIA juga menemukan perusahaan yang membuka hutan untuk perkebunan secara ilegal sebelum izin yang diperlukan telah diperoleh, dengan sepengetahuan pemerintah.

Juru bicara Telapak, Hapsoro mengatakan: "Perusahaan menipu orang Papua agar menyerahkan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dengan janji-janji kosong tentang kesejahteraan masa depan mereka. Ini semua terjadi dengan restu pemerintah atas nama pembangunan".

Merebaknya perkebunan di Papua didorong oleh sejumlah kebijakan pemerintah yang   mempromosikan pengembangan biofuel, terutama kelapa sawit, namun pengelolaan sektor ini kacau-balau dan tidak transparan. Pemerintah bermaksud untuk memperluas wilayah perkebunan kelapa sawit dari enam juta hektar menjadi 20 juta hektar. Sebagian besar pertumbuhan besar ini direncanakan di Papua karena sebagian besar hutan Sumatera dan Kalimantan telah berubah menjadi perkebunan. Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia pada tahun 2007.

Harga tanah yang murah untuk perkebunan, ditambah dengan sejumlah besar kayu berharga dari hasil pembukaan hutan, telah menarik minat perusahaan-perusahaan besar Indonesia, dan menyebabkan investor luar negeri masuk ke Papua. Telapak/EIA mengungkapkan sebuah perusahaan dari Hong Kong yang terdaftar di negara bebas pajak di luar negeri mendapatkan lebih dari 300.000 hektar lahan berhutan lebat di selatan Papua. Dalam publikasinya, perusahaan itu mengklaim akan "memperbaiki" hutan dengan membabat 200.000 hektar dan menggantinya dengan kelapa sawit untuk memasok biofuel ke negara-negara industri yang berusaha mengurangi emisi karbon.

Ketika pertemuan iklim Kopenhagen sudah semakin dekat, konsekuensi dari deforestasi besar-besaran hutan Papua untuk dikonversi menjadi perkebunan jelas negatif. Penelitian ilmiah di Indonesia menunjukkan bahwa mengganti hutan yang utuh atau bekas tebangan menjadi perkebunan kelapa sawit untuk biofuel telah berdampak buruk terhadap emisi gas rumah kaca.

Jago Wadley, Juru Kampanye Hutan Senior EIA mengatakan: "Dewan Perubahan Iklim Indonesia mengakui bahwa deforestasi harus diatasi jika Indonesia ingin mengurangi emisi gas rumah kaca. Pemerintah juga telah menyatakan bahwa biofuel tidak berarti deforestasi. Namun penyelidikan Telapak/EIA telah menemukan deforestasi besar-besaran di Papua yang didorong oleh permintaan nasional dan internasional akan biofuel atas nama perubahan iklim. Ini adalah ketidaklogisan kebijakan tingkat tinggi karena Indonesia merupakan negera pengemisi karbon terbesar ketiga di dunia akibat hilangnya hutan dengan cepat".

Telapak/EIA menyerukan agar Pemerintah Indonesia menghentikan pemberian ijin  perkebunan di Papua sampai diberlakukannya kebijakan yang kuat untuk mendukung hak-hak masyarakat adat/lokal dan melindungi hutan. Telapak/EIA juga sekaligus menyeru kepada masyarakat internasional untuk menangani peran konsumsi komoditas perkebunan dan kayu sebagai penyebab utama deforestasi.


--- SELESAI ---

Video dan foto juga tersedia berdasarkan permintaan. Laporan 'Up for Grabs' versi lengkap tersedia di www.eia-international.org dan www.telapak.org.

Untuk Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

  • Jago Wadley, EIA: +62 813 86621940 (mobile); Email: jagowadley@eia-international.org
  • Hapsoro, Telapak: +62 815 85719872 (mobile); Email: hapsoro@telapak.org
Catatan Untuk Editor:

  • Environmental Investigation Agency (EIA) adalah organisasi lingkungan nirlaba dan independen yang berbasis di London dan Washington DC.  Informasi lebih lanjut terdapat di  www.eia-international.org
  • Telapak adalah organisasi lingkungan independen berbasis di Bogor, Indonesia.  Informasi lebih lanjut terdapat di www.telapak.org 
  • Papua and Papua Barat memiliki wilayah hutan terbesar yang tersisa di Indonesia, selepas satu dekade eksploitasi hutan yang destruktif dan ilegal di tempat-tempat lain di Indonesia. 

Selengkapnya ...
0 com

Orang desa "dilarang" buat Hutan Desa

Ternyata membangun hutan desa tak semudah membalikkan telapak tangan. Menurut anak2 kampung yang senang bermain petak umpet di halaman sebelah, "Oom, membalikkan telapak tangan itu hanya gampang dilakukan kalau kita bermain hom pim paah!"

Selengkapnya ...
Logo Telapak