Tampilkan postingan dengan label Rita Srimustikasari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rita Srimustikasari. Tampilkan semua postingan
0 com

Kepengen jadi Pengusaha Rotan Sukses seperti Kang Bed!

Oleh2 jalan2 ke cirebon dari tim DAS-Telapak

Perjalanan sehari semalam Bogor-Cirebon-Bogor cukup melelahkan bersama Mbak Itok dan Kang Dede, namun banyak hal yang saya peroleh dan tentunya banyak hal pula yang belum saya ketahui.



Perjalanan melelahkan selama enam jam menuju Cirebon diobati dengan geliat para pelajar Cirebon yang berangkan ke sekolah dan tentunya hidangan Sega Jamblang bersama Kang Bayi (salah seorang pengusaha rotan lokal yang menemani saya kali ini). Sega J
amblang (Nasi Jamblang dalam Bahasa Indonesia) adalah makanan khas masyarakat Cirebon, Jawa Barat. Nama Jamblang berasal dari nama daerah di sebelah barat kota Cirebon tempat asal pedagang makanan tersebut. Ciri khas makanan ini adalah penggunaan daun Jati sebagai bungkus nasi. Penyajian makanannya pun bersifat prasmanan. Menu yang tersedia antara lain sambal goreng ati ayam (yang agak manis), tahu sayur, paru-paru (pusu), semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar/telur goreng, telur masak sambal goreng, semur ikan, ikan asin, tahu dan tempe. Kursi disusun melingkar mengelilingi meja prasmanan sehingga memungkinkan para penikmat Nasi Jamblang untuk saling berinteraksi.



Setelah menikmati Nasi Jamblang, saya diajak Kang Bayi untuk mengunjungi pabriknya, CV Salsa Furindo, di daerah Plumbon. Pabrik yang terletak persis di depan PT Sumber Sulawesi (SS), perusahaan penyedia rotan bahan baku terbesar di Cirebon, itu belum menggeliat karena memang belum memasuki jam kerja ketika saya datang.

Kang Bayi memulai cerita tentang dunia rotan yang mulai dia geluti sejak tahun 2005. Sebagai seseorang yang pernah bekerja di dunia kehutanan, dia menjelaskan bahwa keberadaan rotan bergantung besar dengan kelestarian hutan. Sebagai liana, kualitas rotan berbanding lurus dengan ketinggian tajuk-tajuk pohon. Semakin tinggi tajuk pohon, semakin baik dan lentur rotan yang tumbuh. “Rotan terus mengejar cahaya matahari dengan terus ‘memanjat’ pohon hingga ke tajuk. Rotan di Jawa tidak berhasil dibudidayakan karena ketinggian pohon di hutan-hutan di Jawa tidak begitu tinggi sebagaimana di pulau-pulau lainnya dan cenderung seragam jenisnya. Hal ini mengakibatkan rotan cepat sekali keras,” tambah Kang Bayi.

Dia juga menjelaskan tentang kesalahan penggunaan terminologi petani rotan, yang benar menurut dia adalah pemungut rotan. Orang-orang di sekitar hutan, baik hutan milik maupun hutan negara, mencari rotan yang berada di dalam hutan untuk kemudian dibawa ke kampung para pemungut.

Mengenai ASMINDO, Kang Bayi cenderung mengkritisi kinerja ASMINDO. ASMINDO mengklaim seluruh perajin dan pengusaha rotan di Cirebon merupakan anggotanya, sementara ketika ada tawaran ekspor furnitur rotan dari luar negeri melalui pemerintah, yang menikmati ‘kue’ tersebut hanya para pengurusnya saja.

Setelah bercerita mengenai rotan, Kang Bayi mengajak kami untuk melihat proses pembuatan furnitur rotan yang mulai bekerja ada pukul 08.00 ditandai dengan bunyi sirene. Pabrik yang menampung sekitar 50 pekerja dan sekitar 100-500 orang pekerja di luar pabrik ini memang belum dilengkapi dengan standar kesehatan dan keselamatan kerja yang memadai, masih terlihat pekerja yang tidak menggunakan masker dan pakaian khusus ketika menyemprotkan cairan kimia (melamix) sebagai finishing akhir pada permukaan furnitur, juga ketika mengamplas kayu sebagai rangka furnitur.

Hal menarik yang saya temui dalam proses pengerjaan furnitur rotan di dalam pabrik tersebut adalah pemanfaatan bahan baku lain selain rotan, di antaranya serat abaca dan kertas. Hal ini dimanfaatkan sebagai alternatif di tengah krisis bahan baku yang terjadi akibat dibukanya keran ekspor bahan baku rotan yang dilegalkan melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 12/M-DAG/PER/6/2005.

Setelah melihat dan mengamati proses pengerjaan furnitur, Kang Bayi mengajak kami menemui Kang Sambada, biasa dipanggil Sam di kalangan para pengusaha rotan atau Bad di kalangan para pegiat olahraga ekstrim motor trail, selaku pimpinan CV Salsa Furindo. Kesan pertama yang saya peroleh ketika bertemu Kang Bad adalah sosok pemuda nyentrik. Ternyata selain nyentrik, Kang Bad juga merupakan seorang pemuda cerdas dan begitu peduli dengan kondisi industri rotan, khususnya di Cirebon.

Mulai menggeluti industri rotan pada akhir tahun 80-an, Kang Bad mengenalkan sekali karakter para pengusaha rotan yang ada di Cirebon. Dia menggambarkan terbaginya dua kelompok pengusaha rotan, yaitu pengusaha rotan pribumi (asli Cirebon) dengan pengusaha rotan non pribumi. Namun sebagai pribadi yang mudah bergaul, dia tidak memandang hal tersebut sebagai sebuah hal yang harus diamini. Dia tetap bergaul dengan para pengusaha rotan non pribumi, karena memang memiliki tujuan yang sama, yaitu memajukan industri rotan Cirebon dan Indonesia ada umumnya.

Menyikapi krisis yang sedang melanda industri rotan dalam negeri, Kang Bad melihat hal ini sebagai salah satu akibat dari ketamakan para pihak yang menggeluti industri rotan. Di satu sisi para pemungut rotan di daerah penghasil rotan begitu tamak mengekspor, baik legal maupun ilegal, bahan baku rotan ke luar negeri tanpa memperhatikan para perajin rotan di sentra-sentra produsen furnitur dan kerajinan rotan. Di sisi yang lain, para perajin rotan pun begitu tamak mengkonsumsi rotan tersebut tanpa memperhatikan kesejahteraan para pemungut rotan. Hal ini diperparah dengan regulasi pemerintah yang lebih memperhatikan aspek peningkatan penerimaan devisa luar negeri, walaupun disadari oleh Kang Bad hal itu disebabkan kas negara butuh pemasukan yang cepat.

Dia pun menyadari bahwa hingga saat ini desain produk rotan lebih berpihak pada pesanan pembeli. Hal inilah yang dia rombak dengan mempromosikan tiga kontainer furnitur rotan dengan desain sendiri walaupun hingga saat ini belum ada tawaran pembelian atas furnitur rotan tersebut.

Sebelum kami berpamitan dengan Kang Bad menuju kediaman Pak Badruddin Hambali selaku ketua MPPRSI (Masyarakat Perajin Pekerja Rotan Seluruh Indonesia), Kang Bad menyatakan perlunya dukungan pihak-pihak lain untuk kembali memajukan industri rotan lokal. Hal ini perlu dilakukan agar kelestarian hutan sebagai habitat rotan tetap terjaga, apalagi sebagai seorang pegiat olahraga ekstrim motor trail yang sering menjelajahi hutan, Kang Bad merasa keberadaan hutan begitu penting.

Ditemani Kang Bayi, kami sampai di rumah Pak Badruddin, suasana kekeluargaan begitu terasa. Sebelum memulai perbincangan, kami dihidangkan kopi item dan teh tubruk khas Cirebon.

Sebagai seseorang yang dicap sebagai ‘tukang demo’, di mata kami beliau merupakan orang tua yang muda, energik, dan peduli, bukan orang tua yang konservatif dan bertingkah seperti tembok tinggi menjulang. Kepedulian itu ditunjukkan dengan terus menyuarakan pentingnya penghapusan Peraturan Menteri Perdagangan No. 12/M-DAG/PER/6/2005 yang membuka keran ekspor bahan baku rotan.
Pak Badrudin juga begitu antusias menyambut kedatangan kami dan membahas rencana kunjungan kawan-kawan dari WWF Greater Mekong Program. Beliau melihat hal ini sebagai sebuah peluang untuk menyuarakan kondisi industri rotan Indonesia kepada dunia. Selain itu, beliau pun menyadari hal ini dapat ‘menyentil’ pemerintah agar lebih memperhatikan industri furnitur rotan Indonesia.

Adanya kekhawatiran Kang Bayi akan rencana kunjungan ini terhadap pencurian pengetahuan para perajin lokal oleh peserta kunjungan dari WWF Greater Mekong Program, disikapi oleh Pak Badrudin bahwa beliau tidak akan menyampaikan hal-hal yang dapat ‘membahayakan’ industri furnitur rotan lokal.

Setelah informasi yang diperoleh dari Pak Badrudin kami rasa cukup, Kang Bayi mengajak kami makan siang di Empal Asem Amarta. Empat mangkuk besar empal asem dan dua piring sate kambing muda membuat panas yang terik sedikit terlupakan.
Perjalanan kami lanjutkan ke pusat kota Cirebon untuk mencari penginapan yang akan digunakan pada kunjungan tanggal 8 Juni 2009 mendatang. Ketika memasuki kota Cirebon, kami disambut dengan menara air yang menarik saya untuk mampir dan melihat kota Cirebon dari atas menara air tersebut. Namun waktu sepertinya kurang berpihak, setelah melihat-lihat, kami tertarik dengan Hotel Sare Sae. Selain dekat dengan stasiun kereta api Cirebon, hotel tersebut juga memberikan nuansa alami.
Akhirnya urusan transportasi selama kunjungan kawan-kawan dari WWF Greater Mekong Program diserahkan kepada Kang Bayi. Setelah mengantarkan Kang Bayi ke pabriknya, kami kembali ke Bogor melalui jalur Bandung.


Penulis=
Ubay (u.syohih@gmail.com)
-aktif sebagai pengasuh FORCI Fahutan IPB. Saat ini sedang bantuin Itok untuk persiapan kunjungan 14 orang dari Indochina untuk melihat model pengelolaan rotan di Indonesia.

Selengkapnya ...
1 com

Apakah ‘berdiri di depan kelas’ berarti sudah menyumbang ke dalam penyelamatan bumi dan pengelolaan SDA* di Indonesia?

Berdiri di depan kelas. Almarhum kakekku adalah seorang penilik (semacam kepala sekolah) di sebuah sekolah Belanda. Disiplin dan ketelitiannya mengatur hidup adalah sesuatu yg kukagumi. Rasanya aku juga ditularkan sebuah pengertian bahwa ‘berdiri di depan kelas’, ketika semua mata memandang dan semua perhatian tertuju ke kita, adalah suatu kenikmatan. Kita hadir dan eksis di bumi ini. Pernah terbersit ingin menjadi guru atau dosen. Tapi merasa tidak mampu bertahan dengan segala prosedur dan formalitasnya.

Berdiri di muka umum adalah kenikmatan
Mimpi masa kecil itu kembali hadir di pagi yg cerah ini. Lebih dari 50 mahasiswa duduk manis di aula pertemuan Fakultas Ekonomi, Universitas Pakuan, Bogor. Sebagian besar memakai jaket almamater berwarna biru. Ada sekelompok mahasiswa yg duduk terpisah, terdiri atas perempuan semua, tidak satu pun memakai jaket biru. (Mereka bukan anggota BEM, kata seorang panitia).

Ibu Sri, pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan membuka acara. Soraya, Ketua Panitia Hari Bumi ini mengantar kita dengan menjelaskan rangkaian acara, dan Meta, Ketua BEM FE UNPAK mengulas kenapa mahasiswa ekonomi harus juga turut serta dalam kegiatan lingkungan hidup. Hebat, yg jadi motor kegiatan hari bumi di tempat ini adalah perempuan semua!

Tiga buah film ‘sampah’ diputar; Krisis Air di Kota Bogor, Teluk Jakarta Under Pressure dan film terbaru seputaran kegiatan Kelompok Peduli Ciliwung. Semua orang diam, terhentak, larut dalam aliran Kali Ciliwung yg menanggung sampah produk manusia dan membawanya jauh menuju ke Laut Jakarta.

Entah kali ke berapa aku menonton film2 ini. Dan aku masih mengaguminya dan menemukan, memunguti sesuatu yg baru dari film2 ini. Rasanya kian hari kian mengerti bagaimana cerita sampah dan bisa empati dengan teman2 penggiat kegiatan Kelompok Peduli Ciliwung. Terbayang wajah teman2 ku, para aktivist lingkungan yg begitu semangat mengajak orang untuk ‘turun ke sungai’ dan ‘berbuat’ sekecil apapun untuk mengangkat sampah dari sana.

…

Kuminta 4 kelompok mahasiswa ini menggambar bersama, apa mimpi anda untuk Sungai Ciliwung dalam lima tahun ke depan? Tidak ada bangunan di pinggir sungai, ada rumah susun yg berdesign ramah lingkungan, pepohonan yg rindang dan taman yg asri di sepanjang pinggiran sungai, ada tempat sampah di setiap sudut kota, mekanisme pengolahan sampah plastik. Dan hebatnya semua tugas itu adalah tanggung-jawab pemerintah. Gubrak!

Kegiatan seperti ini membutuhkan biaya 1,5 juta yg dihabiskan untuk konsumsi, cetak spanduk, cetak plakat tanda terimakasih, cetak sertifikat. Universitas memberikan dukungan penuh.

Jangan bicara efisiensi dalam suatu proses belajar. Kalau melihat bagaimana sekelompok anak muda, duduk2 di bawah pohon rindang, bersenda gurau dengan teman, menonton TV saluran olahraga, chatting dengan laptop keluaran terbaru atau yg berkeringat karena baru saja selesai bermain basket. Betapa banyak potensi orang muda. Semua ini sedang belajar mempersiapkan masa depan. Aku juga pernah ngalami yg tidak jauh seperti ini. Apa yg didapat? Cerita indah membangun memori pertemanan, belajar bagaimana caranya menjadi pengikut, menemukan bahwa semua orang mau (dan memang didorong) menjadi leader. Ah betapa jalan panjang untuk ‘menemukan diri’, capacity building, sampai akhirnya membentuk critical mass yg aware akan isu dan permasalahan seputar pengelolaan sumberdaya air di Indonesia.

Kembali menyadari kalau aku bisa berdiri di depan kelas, memfasilitasi kelompok mahasiswa membedah apa arti 3 film ‘sampah’ itu. Dan apakah kegiatan hari ini akan ada artinya buat bumi? Aku mengajak para mahasiswa ini untuk nongol di aksi bersih kali yg biasa kita adakan setiap hari Minggu. Kita lihat berapa orang yg akan hadir dalam aksi pemungutan sampah besok minggu. (Atau mereka juga akan dikategorikan sebagai kelompok ‘malu-malu’, seperti sebutan HO untuk sekelompok orang, tidak tahu pasti itu siapa, tapi sepertinya dia jengkel sekali dengan kenyataan itu).

Terimakasih Sandi untuk mengajakku hadir di pertemuan ini. Hebat memang networking mu. Teruskan!



Selamat hari bumi buat teman2 di BEM FE UNPAK!



Rita Mustikasari
Telapak
Jalan Pajajaran No 54, Bogor 16143. Indonesia.
tel: +62 (0)251 8393-245
fax: +62 (0)251 8393-246
Homepage= www.telapak.org
Email= ritamustikasari@telapak.org


Kedaulatan Politik. Kemandirian Ekonomi. Kemartabatan Budaya


*sumberdaya air

Selengkapnya ...
0 com

Orang Baru Datang dan Ber'Volunteer"

... Orang Lama Berniat Mau Cabut dan Capek dengan Kepura2an Hidup


Ada 8 band yg sudah terdaftar di tangan Sandi sang pembawa acara, untuk tampil di panggung di pelataran parkir Kedai Telapak di malam pergantian tahun baru ini. Band-band ini adalah temannya teman-teman telapak. Tidak ada yg diantara kelompok band ini yg dibayar. (Ada sih panitia mengeluarkan uang untuk ongkos Kelompok Pengamen Jalanan). Yg lainnya hadir karena memang mereka mau tampil menyumbang kehangatan menyambut pergantian tahun ini. Apakah betul telapak telah berhasil menggerakkan orang2 ini, untuk datang ber-volunteer?

Yg menurutku asyik lagi adalah panitia yg jadi motor terselenggaranya acara keren malam ini. Wisnu, bosnya Kedai aja mengakui bahwa dia tidak tahu menahu dengan pelaksanaan acara ini. Alias ini memang inisiatif orang2 mudanya Telapak ini. Mereka yg jadi panitia ini adalah orang2 jebolan pengkaderannya Telapak yg baru dilakukan di Bogor bulan lalu. Ada Asep Kedai, Dede dan Ari Kippy, Ika BU Jabar, Sandi FWI, bahkan Hendi sibuk dari mulai panggung, listrik, sampe menjaga agar audience kita tidak terlalu terganggu dengan suara dangdut yg merayu-rayu dari panggung di parkiran Damri.

Tidak banyak orang Telapak yg nongkrong malam ini. Entah pada kemana. Ada Wisnu yg membuka acara, Abdon cs, Mina yg lagi sedih karena sedang kedukaan kehilangan teman baiknya, Pudo dengan kameranya, Onte, dan Budi yg lagi be-te kehilangan keyakinan bahwa ada sesuatu ketulusan dibalik hiruk pikuk kepura-puraan hidup yg dijalani ini, Nael dengan baju hitam tangan panjangnya, Rina si ibu hamil dan Bob-nya. Tapi penonton ‘normal’ (non-telapak) datang memenuhi pelataran parkiran Gedung Alumni. Mereka tetap bertahan menonton kelompok grup band yg silih berganti. Sampai jam 10.27 ini, sudah 5 kali ganti band. Dan satu kali menonton film ‘krisis airnya kota bogor’ produksi telapak 2005.

Malam ini indah. Tidak hujan. Sesekali kembang api dinyalakan dan benderang di angkasa. Dari tempat ku duduk, di kursi kayu jawa, terlihat inisial terang dan besar HS (Hotel Santika) di ujung langit sana, yg baru kelar dibangun. Bunyi terompet sesekali terdengar ditiup. Bum-bum-bum hentakan musik terdengar keras.

Selamat tahun baru 1430 dan 2009!

Selengkapnya ...
0 com

Siapkah kita Menjadi Dewan Air?

Menjadi utusan Perkumpulan Telapak sebagai anggota Dewan Sumberdaya Air Nasional adalah bukanlah cita-cita kecilku. Si Emak, seorang kawan senior biasa kami menyebut dia, pernah bilang bahwa dia berkeinginan menjadi anggota dewan (red-DPR). Tapi itu dulu, sepuluh tahunan yang lalu, sewaktu kami masih sama-sama di kampus. Dia yang begitu tangguh saat berargumen dalam rapat-rapat di kampus, seringkali membuat hati kami (kawannya) jadi kecut. Entah karena kepandaiannya bersilat lidah atau kepiawaiannya dalam memahami isu. Pokoknya ... kelihatan hebat lah!


Konsep kerja buatku sederhana. Berkeringat di bawah sinar matahari. Petani ... itulah sosok gambaran orang yang bekerja. Makanya aku jadi semangat sekali kalau sedang berkebun di petakan halaman depan rumah yang tidak seberapa itu. Walau sekarang jadi agak ngeri-ngeri karena si teteh menemukan ada ular di bawah batu di tempat itu.

Apakah aku berjalan ke arah cita-cita kecilku atau malah mengerjakan sesuatu yg justru dulunya membuat jantungku dag-dig-dug dan keringatan dingin? Apa konsep ‘kerja’ buat ku? Apakah suatu kerja praxis atau theoria saja? Aku menyebut praxis dan theoria bukan bermaksud memberi bobot lebih pada satu diantara yang lainnya. Karena asal tahu menggunakannya kapan dan di mana, keduanya bisa berdampak banyak. Atau mau mengkombinasikan keduanya, seperti yg coba dilakukan Telapak selama ini?

Hegel membuat dialektika menarik soal kerja tuan-budak. Pada awalnya sang tuan tanah memperkerjakan para buruh tani sebagai budaknya untuk menggarap lahan pertaniannya yg luas. Setelah beberapa waktu berjalan ternyata sang tuan tanah menjadi sangat tergantung pada para buruhnya. Sehingga hubungan tuan-budak menjadi berbalik.

Mungkin apa yg kulihat sebagai ‘pekerjaan enak’ petani itu adalah simplifikasi seorang anak manusia atas kerumitan yang memang dihadapi suatu kelompok masyarakat termarjinalkan dalam hidup bernegaranya. Aku mau para petani di berbagai sektor pertanian punya hidup sejahtera. Pertanian di sini tidak terbatas pada petani di sawah tapi juga para pengumpul rotan di Desa Gimpu di pinggiran Taman Nasional Lore Lindu, atau blandong-blandong HPH di Jambi sana, atau ibu-ibu penganyam dan pemetik Bemban dan Kulan di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, atau nelayan rumput laut di Pulau Pari Kepulauan Seribu, bahkan juga para petani tungku arang yang mengandalkan kayu-kayu bakau dari hutan mangrove Batu Ampar.

Mereka semua memakai dan tergantung dengan air. Karyawan, biasa para pengumpul rotan di Lore Lindu disebut, memakai Sungai Lariang untuk mengalirkan rotan dari dalam hutan. Kelompok perempuan penganyam dari Dusun Pengerak dan Dusun Pelaik di sekitar Danau Sentarum itu hidup di atas air dan tetap rajin naik-turun sesuai irama alam.

Apa yg bisa kulakukan untuk mereka dengan menjadi anggota Dewan Air Nasional yg terhormat ini? Kubilang terhormat karena pengangkatannya saja akan diatur oleh Keputusan Presiden. Bahwa pembentukan Dewan Air ini ditetapkan oleh Undang-Undang No 7/2004 tentang Sumberdaya Air (Pasal 86 ayat (4)).

Semoga siapapun yg membaca ini menjadi tahu soal informasi Dewan Air ini. Bahkan lebih jauh mau berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya kami berkiprah di arena PERANG AIR ini!!!


"Berdaulat secara Politik, Mandiri secara Ekonomi, dan Bermartabat secara Budaya"

Selengkapnya ...
0 com

Hari Perempuan 2006

Laksmi mengirim sms sesaat sebelum aku pulang dari Yasmin. ‘Pernah bersyukur dilahirkan sebagai perempuan? Hari ini hari yg tepat untuk melakukannya (lagi). Selamat Hari Perempuan’.

Reaksi pertamaku membaca pesan itu adalah suatu penolakan besar. Pernah memang sesekali terlintas enak juga yah jadi cowok, bisa pulang malam tanpa rasa riskan takut ada apa-apa, bisa pergi mengambil kesempatan ke mana saja dan kapan saja dengan cepat dan bebas, ah apa yg mereka tidak bisa. Tetapi untuk tidak bersyukur karena dilahirkan menjadi perempuan, wah tidak tuh.

Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya laki-laki. Ayah dan ibu saya adalah orang yg berhasil menanamkan bahwa tidak ada yg tidak bisa dilakukan oleh perempuan, seperti juga apa yg bisa dilakukan oleh laki-laki. Walau pernah Mama khawatir dan sempat melarangku untuk tidak aktif dalam kegiatan Palasi (Pencinta Alam Anak SMA I) Jakarta, tapi diralat oleh Bapak. ‘Silakan saja kalau kamu mau ikut naik gunung atau kegiatan outdoor lainnya. Kami akan memberimu kepercayaan yg harus kamu jaga. Kalau kamu merusak kepercayaan yg kami berikan, maka kami tidak akan mengijinkanmu pergi kemana-kama’.

Amazing, kata sakti itu membuatku terpacu, dan malah berhati-hati dengan sendirinya. aku akan selektif dalam memilih teman, agar terhindar dari hal-hal yg sangat ditakutkan perempuan umumnya. Tapi entah keberanian dari mana, kalau sejak SMA memang sudah biasa pulang malam bahkan dini hari setelah kegiatan-kegiatan itu. Dan itu terus berlanjut sampai kuliah di IPB, Fahutan lagi. Hehehe setelah married, yah berubah lah sdikit, khan udah ada yg mengkhawatirkan sekarang ...

Terkadang ada rasa takut itu, tapi kemudian diam sambil pasang wajah ‘penolakan’ yg berisi pesan, dilarang godain, yg ternyata kesan wajah itu terus kebawa sampe sekarang, hehehe. Aku akan memilih tempat duduk di bis yg strategi, misalnya dekat supir atau ngobrol sama kondekturnya. Jika agak penuh, maka akan m ilih duduk dekat bapak-bapak yg sepertinya baik hati. Mungkin karena ini pulalah, insting ku menjadi semakin terasah tentang ‘membaca orang’.

Bu Meilani, seorang guru favorit suamiku yg sekarang menjadi guruku juga, adalah seorang aktivist perempuan, pernah bertanya di dalam kelas, ceritakan tentang persoalan gender yg kamu pernah alami. Dengan lantang kukatakan padanya bahwa saya merasa isu gender terlalu dibesar-besarkan. Dari seluruh kehidupan saya sampai saat ini, saya merasa tidak bermasalah dengan persoalan jenis kelamin dan segala atribut menempel dengannya. Mungkin memang benar bahwa saya dibekali dari rumah suatau keyakinan agar tidak usah terhambat dengan adanya isu gender ini. Tetapi terkadang saya sendiri lupa, atau meng-ignore bahwa permasalahan gender juga terjadi menimpaku, atau menimpa kaum perempuan. mungkin aku saja belum bisa melihat dan oleh karenanya tidak bisa memahami apa itu gender.

Seorang teman hendak membeli mobil tetapi agak tersendat karena dia tidak memiliki KTP Bogor. Sang salesman, yg juga teman lama berusaha mati-matian mencari pinjaman nama, KTP dan Kartu Keluarga untuk kepentingan ini. Di suatu sore Bogor yg panas karena sudah empat hari ini tidak turun hujan, datanglah dia memohon-mohon ke Iwak (yg memang orang Bogor) yg sedang sibuk mempersiapkan trip besok. ‘sudahlah Wa, ayo kita pulang ke rumahmu sekarang, biar cepat beres nih’. Iya elo yg beres, gmana dengan kerjaan gue, ujarnya mengajukan keberatannya. Kenapa nggak pinjam KTP nya Dion, dia khan orang Bogor juga dan rumahnya deket tuh di Cimanggu, lanjut Iwa. Iya, dia tuh orang Bogor, timpalku menyemangati. ‘Ah susah, ntar kudu nanya dulu suaminya, ribet lah’.

Aku terdiam mendengar drama satu babak itu. Itu semua menjawab keherananku, kenapa tuh anak tidak datang ke padaku dan bertanya hal yg sama. Kenapa dia hanya datang dan mencari teman laki-lakinya saja. padahal diam2 aku gerendeng, aku juga punya KTP, KK, dan dua rumah yg semuanya atas namaku. Aku jadi ingat Bu Melanie guru genderku dalam mata kuliah Perubahan Sosial.

Betul, bahwa society punya pandangan tertentu tentang perempuan, yg itu seringkali menghalangi hak dan kebebasannya berekspresi, mungkin tidak secara langsung tapi tetep saja terhalangi khan. Atau dalam kasusku mungkin malah kebeneran nggak ditanyain jadi ‘aman’ lah dari tanggung jawab menanggung beban tagihan orang lain.

Ini mungkin bukan contoh yg spektakuler yg bisa menunjukkan bagaimana hak perempuan terbelenggu. Tapi buatku jadi ganjalan, kenapa gue nggak ditanyain?????. Kenapa hanya Iwak dan teman laki-laki ku saja yg mendapat pertanyaan itu. Elo pikir kalau perempuan tidak bisa ngeluarin KTP, KK, dan surat tanahnya untuk menolong seorang teman. Elo pikir kalau elo nanya ke Iwak maka dia tidak perlu nanya istrinya terlebih dahulu. Apakah sudah jadi asumsi yg 100% benar, kalau suami yg nanya maka si istri akan ikut saja. ah kasihan sekali perempuan.

Aku bersukur menjadi perempuan, bukan hanya karena 8 Maret ditetapkan menjadi Hari Perempuan, di setiap nafasku aku adalah perempuan. Seorang istri dari suamiku, dan ibu dari anak-anakku, teman perempuan dari banyak kawan laki-lakiku dan menjadi teman perempuan yg bisa memberi pengertian bagaimana cara laki-laki berpikir bagi sedikit teman perempuanku.

Selamat Hari Perempuan Mbak Laksmi ...

Selengkapnya ...
Logo Telapak